Fenomena Pengangguran
Hingga kini bangsa Indonesia masih dililit persoalan pengangguran yang luar biasa. Menurut Laporan Biro Pusat Statistik (2010), 7,41% atau 8.595.600 orang dari angkatan kerja pada tahun 2010 (Februari) sebanyak 116.000.000 orang merupakan pengangguran terbuka. Menurut Edwards (dalam Sumarsono, 2009: 260), penganguran terbuka adalah mereka yang benar-benar tidak bekerja, baik secara sukarela maupun paksaan. Selain itu, dalam waktu yang sama, juga terdapat pengangguran dengan kategori setengah pengangguran sebanyak 32,8 juta orang. Kategori pengangguran jenis ini adalah para pekerja yang jumlah jam kerjanya lebih sedikit dari yang sebenarnya mereka inginkan (Edwards, dalam Sumarsono, 2009: 260).
Untuk tingkat pengangguran terbuka (TPT), selama periode 2008-2010, rinciannya tampak pada tabel berikut:
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Periode 2008–2010
(persen)
| Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan | 2008 | 2009 | 2010 | ||
| Februari | Agustus | Februari | Agustus | Februari | |
| SD ke Bawah | 4,70 | 4,57 | 4,51 | 3,78 | 3,71 |
| Sekolah Menengah Pertama | 10,05 | 9,39 | 9,38 | 8,37 | 7,55 |
| Sekolah Menengah Atas | 13,69 | 14,31 | 12,36 | 14,50 | 11,90 |
| Sekolah Menengah Kejuruan | 14,80 | 17,26 | 15,69 | 14,59 | 13,81 |
| Diploma I/II/III | 16,35 | 11,21 | 15,38 | 13,66 | 15,71 |
| Universitas | 14,25 | 12,59 | 12,94 | 13,08 | 14,24 |
| Total | 8,46 | 8,39 | 8,14 | 7,87 | 7,41 |
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah kembali (2010).
Dari data pada tabel tersebut terlihat bahwa TPT mengalami gejolak fluktuatif dari tahun ke tahun. Dalam hitungan semester, kondisi dapat berubah secara ekstrim. Untuk pengangguran terbuka yang tamat Sekolah Menengah Kejuruan misalnya, pada bulan Februari 2008 persentasenya 14,80% dan enam bulan kemudian (Agustus) mengalami lonjakan drastis menjadi 17,26%. Sebaliknya untuk penganggguran terbuka yang tamat Diploma I/II/III, pada bulan Februari 2008 persentasenya 16,35% dan enam bulan kemudian (Agustus) mengalami penurunan serius menjadi 11,21%, namun enam bulan berikutnya (Februarti 2009) bergejolak naik lagi menjadi 15,38%. Fenomena ini mengisyaratkan adanya tingkat turn over di dunia kerja yang sangat tinggi, yang antara lain dapat disebabkan oleh keterampilan kerja tidak memadai, yang mengakibatkan para pekerja gagal membangun kinerjanya sendiri dan juga tidak mampu memberikan kontribusi positif pada kinerja organisanya (tempat bekerja).
Pertanyaan kritis
Fenomena pengangguran yang disertai tingkat turn over yang tinggi tersebut setidaknya menyodorkan satu pertanyaan kritis: mengapa angkatan kerja kita tidak memiliki keterampilan yang memadai sehingga membuat mereka menganggur atau mengalami turn over ketika sudah bekerja?
Teori
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kiranya penting untuk disinggung beberapa teori yang relevan dengan persoalan tersebut, antara lain teori pengangguran, kebijakan pendidikan nonformal, dan strategi.
Pengangguran
Istilah pengangguran (umployed) dapat diartikan sebagai lawan kata employed (bekerja). Namun, yang disebut pengangguran masih ada persyaratan lain, yaitu ia harus aktif mencari pekerjaan, sehingga lebih layak dikategorikan sebagai pencari kerja (Arfida, 2003: 134). Sedangkan menurut Sumarsono (2009: 259), pengangguran adalah suatu keadaan di mana seseorang yang tergolong dalam kategori angkatan kerja tidak memiliki pekerjaan dan secara aktif sedang mencari kerja.
Dilihat dari sebab-sebab timbulnya, pengangguran dapat dibagi menjadi:
1. Pengangguran friksional, yaitu pengangguran yang disebabkan oleh suatu hambatan yang menyebabkan proses bertemunya penawaran dan permintaan tenaga kerja menjadi tidak lancar, atau pengangguran yang timbul akibat dari perubahan di dalam syarat-syarat kerja, yang terjadi seiring dengan dinamika atau perkembangan ekonomi yang terjadi.
2. Pengangguran struktural, yakni pengangguran yang terjadi sebagai akibat adanya perubahan di dalam struktur pasar tenaga kerja yang menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian antara penawaran dan permintaan tenaga kerja.
3. Pengangguran alamiah, yaitu pengangguran yang terjadi pada kesempatan kerja penuh atau tingkat pengangguran dimana inflasi yang diharapkan sama dengan tingkat inflasi aktual.
4. Pengangguran konjungtur atau siklis, yakni pengangguran yang terjadi akibat merosotnya kegiatan ekonomi atau karena terlampau kecilnya permintaan efektif agregat di dalam perekonomian daripada penawaran agregat (Arfida, 2003: 134-135; Sumarsono, 2009: 259-260).
Di negara sedang berkembang pada umumnya pengangguran yang terjadi adalah:
1. Pengangguran terselubung (disguised unemployment), yang terjadi akibat di dalam perekonomian adanya kelebihan tenaga kerja sehingga sering disebut pengangguran tak ketara.
2. Pengangguran musiman (season unemployment), yaitu pengangguran yang terjadi pada waktu-waktu tertentu pada satu tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar